Kamis, 04 Agustus 2011

KOREKSI TERHADAP SEBAGIAN ADAT YANG DIGIATKAN PADA BULAN RAMADHAN

Oleh
Ustadz Muhammad Dahri
http://almanhaj.or.id/content/3136/slash/0

Ada beberapa kebiasaan yang selalu dilakukan oleh sebagian kaum
muslimin, berkaitan dengan datangnya bulan Ramadhan. Kebiasaan yang
dianggap ta’abbud atau taqarrub kepada Allah, atau sikap gembira dan
syukur, atau sekedar ikut-ikutan. Padahal menurut keterangan para
ahlul ilmi tidaklah demikian. Bahkan menyalahi sunnah (ajaran) Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang paling menonjol dari kebiasaan
tersebut, diantaranya sebagai berikut.

KEBIASAAN MELEDAKKAN PETASAN (MERCON)
Kebiasaan ini dilakukan tanpa mengenal waktu, malam atau siang, waktu
kerja atau waktu istirahat. Juga tidak mengenal tempat, di halaman
rumah tetangga, halaman masjid, di jalanan dan di tempat-tempat umum
lainnya. Yang jelas, pada umumnya dilakukan sesuai keinginan
pelakunya; kapan saja, di mana saja, orang lain merasa terganggu atau
merasa senang, hal itu tidak dipertimbangkan lagi.

Pada bulan Ramadhan, khususnya pada awal-awal bulan, sering kita
jumpai peledakan petasan yang sangat berlebih-lebihan. Diantaranya
dalam bentuk berikut ini:

a. Pada waktu pagi, ketika masih agak gelap (sesudah shalat shubuh).
Banyak remaja putra dan putri (dan terkadang ada orang dewasa dan yang
sudah berumur tua) dari kaum muslimin, secara beramai-ramai memenuhi
jalanan umum. Mereka meledakkan banyak jenis petasan, tanpa
menghiraukan orang-orang yang lewat. Bahkan banyak diantara mereka
yang memang sengaja ingin mengagetkan atau menakut-nakuti orang yang
lewat; termasuk pengendara motor atau pejalan kaki. Ada juga peledakan
dalam bentuk lain, yaitu dengan cara bergantian melemparkan petasan ke
arah kelompok lain, seperti halnya orang berperang. Ini dilakukan
tanpa menghiraukan ketertiban jalanan, keamanan, kenyamanan serta
ketentraman lingkungan dan warga.

b. Diantaranya banyak yang sengaja menyiapkan petasan di jalanan. Jika
mengetahui ada pengendara atau pejalan kaki yang lewat, lalu
diledakkanlah petasan yang sudah disiapkan tadi, sehingga yang
lewatpun terkejut. Mereka kemudian tertawa, dan bahkan mengejeknya
karena orang yang lewat tersebut terkejut.

c. Ada yang meledakkan petasan di dekat masjid, saat orang-orang di
dalam masjid sedang shalat berjama’ah. Seperti waktu shalat tarawih,
shalat Zhuhur dan shalat yang lain. Peledakan ini sangat mengganggu
konsentrasi dan kekhusyukan orang-orang yang sedang shalat.

d. Di banyak lingkungan, anak-anak dibiarkan meledakkan petasan di
sembarang tempat dan waktu, tanpa memperhitungkan kondisi tetangga dan
warga. Padahal diantara tetangga tersebut ada yang mempunyai bayi yang
baru lahir, atau masih kecil, yang cenderung kaget dengan ledakan
petasan seperti ini, begitu juga warga yang membutuhkan istirahat.

TINJAUAN HUKUM SYAR‘I
Untuk mengetahui halal atau haramnya hukum petasan ini, maka kita
harus meninjau beberapa landasan umum yang digunakan oleh ulama (ahlul
ilmi) dan efek negatif lainnya dalam menetapkan banyak hukum.
Diataranya:

Pertama. Bahwa harta yang kita miliki merupakan nikmat dan amanat yang
akan dipertanggung jawabkan, dari mana diperolehnya dan untuk apa
dipergunakan, seperti firman Allah dalam At Takatsur ayat 8 :

ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

"Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu (hari akhir) tentang
segala nikmat".

Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadist :

لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّهِ
حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ
شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا
أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

"Tidak lolos anak cucu Adam dari pemeriksaan pada hari kiamat di sisi
Tuhannya, sampai ia ditanyai tentang lima perkara. (1) Tentang
umurnya, untuk apa ia habiskan, (2) Tentang masa mudanya, untuk apa ia
pakai. (3) Hartanya, dari mana ia peroleh/. (4) Di mana dan bagaimana
ia mepergunakannya. (5) Dan apa yang ia amalkan dari ilmu yang
diketahuinya".

Jadi setiap muslim tidak boleh semaunya membelanjakan hartanya,
kecuali pada hal-hal yang dibolehkan oleh syara’. Sedangkan
membelanjakan harta untuk petasan, maka sudah nyata merupakan
pelanggaran syar’i, berdasarkan tinjauan prinsip dan landasan yang
disebutkan berikut ini.

Kedua. Menggangu kaum muslimin, tetangga (warga), termasuk mengganggu
dengan meledakkan petasan, hukumnya haram. Allah berfirman dalam Al
Qur’an surat Al Ahzab ayat 58 :

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ
مَااكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa
kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka menanggung
kebohongan dan dosa yang nyata".

Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

"Orang muslim itu ialah yang dimana kaum muslimin terbebas dari
gangguan lidah dan gangguan tangannya". [Muttafaqun alaih]

Dan dalam hadits lain, beliau bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah
ia mengganggu tetangganya". [HR Bukhari]

Ketiga : Menggangu orang di jalanan, hukumnya haram. Rasullullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ
إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ
إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ
الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ
وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ

"Janganlah kalian duduk di jalan. Maka para sahabat bertanya,”Wahai
Rasulullah, mengapa mesti mencegah kami duduk di jalan. Kami hanya
bicara.” Maka Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Jika
kalian masih tetap ingin duduk (di jalan), maka jagalah hak jalan.”
Mereka bertanya,”Apakah hak jalan itu, wahai Rasulullah?” Beliau
menjawab,“Menjaga pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, amar
ma’ruf dan nahi munkar." [HR Bukhari, Muslim dan Ahmad]

Dalam hadits ini terdapat larangan mengganggu di jalanan, serta
larangan yang sengaja melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan
gangguan. Tentunya, yang termasuk dalam hal ini, ialah larangan
meledakan petasan. Karena suara dan baunya sangat mengganggu.

Keempat : Dengan keterangan di atas, maka jelaslah, membelanjakan uang
(harta) untuk petasan, termasuk perbuatan menghambur-hamburkan harta
secara boros. Allah berfirman dalam surah Al Isra’ ayat 26-27 :

وَءَاتِ ذَا الْقُرْبَي حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ
وَلاَتُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ؛ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ
الشَّيَاطِينَ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros.
Sesunguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan, dan
syetan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya".

Kelima : Ada ulama atau tokoh yang melontarkan, bahwa kebiasaan
bergembira dengan permainan-permainan api merupakan adat kebiasaan
orang-orang kafir. Adapun kita (kaum muslimin), diperintahkan agar
tidak bertasyabbuh (menyerupai) mereka. Rasullullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka ia masuk ke golongan
mereka". [HR Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban]

Demikian ini diantara alasan yang dapat dijadikan landasan untuk
menilai baik-tidaknya petasan. Bisa juga kita tambahkan, bahwa
maraknya peledakan petasan di kalangan anak-anak muslim menimbulkan
penilaian yang negatif dari kalangan non muslim. Karena mereka pun
–otomatis- ikut terganggu dengan ledakan yang terjadi dimana-mana dan
terjadi setiap saat. Wallahu a’lam.

TABARRUJ DAN IKHTILATH YANG MARAK
Hal ini kelihatan agak sering terjadi:
a. Saat selesai shalat Shubuh. Yaitu banyaknya anak muda muslim dan
muslimah yang berkeliaran di jalanan dengan bercampur baur
(ikhtilath), tidak menutup aurat, dan bahkan ada diantaranya yang
memanfaatkannya untuk berpacaran. Mereka tidak menyadari, bahwa hal
itu sangat berpengaruh pada ibadah puasa mereka amalkan.

b. Saat pergi ke masjid dengan alasan ingin menunaikan ibadah shalat
tarawih. Bahkan saat keluar menuju ke masjid, ada diantara wanita
muslimah yang memakai parfum atau wangi-wangian. Padahal hal ini
sangat terlarang dalam syari’at Islam. Rasullullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda :

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا
مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

"Siapapun perempuan yang memakai wangi-wangian, lalu ia melewati kaum
laki-laki supaya mereka mencium baunya, maka dia adalah wanita
pezina". [HR Nasa’i dan lainnya dan di hasankan oleh Al-Albani]

Masih banyak kebiasaan lain yang juga ditonjolkan oleh kaum muslimin
pada bulan Ramadhan. Yang pada dasarnya sangat bertentangan dengan
nilai-nilai Islam.

HIMBAUAN TERBUKA
Kepada para ulama, da’i, pengurus masjid, tokoh masyarakat di kalangan
kaum muslimin; hendaklah aktif memberikan nasihat kepada kaum
muslimin, untuk menghindari hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan
tersebut. Dan secara khusus kepada para orang tua, hendaknya mengawasi
anaknya masing-masing, agar tidak ikut-ikutan melakukan hal tersebut.
Ketahuilah, wahai para orang tua. Bahwa anda akan dimintai pertanggung
jawaban pada hari kiamat, tentang tugas anda mengawasi anak-anak anda.
Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Kalian semua adalah penjaga, dan akan ditanyai tentang yang dijaganya".

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun VII/1424H/2003M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax
0271-858197]

SIKAP ORANG TERHADAP RAMADHAN?

Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla Rabb semesta alam. Aku
bersaksi bahwa tiada ilâh yang patut disembah melainkan Allah Azza wa
Jalla semata. Tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah hamba dan Rasul-Nya.

Sesungguhnya manusia terbagi menjadi beberapa macam, ada yang
mencintai amal shalih dan menyibukkan diri dengannya siang dan malam.
Dan ada juga yang membenci dan menjauhinya. Ramadhan adalah bulan
maghfirah (ampunan), bulan dimana pintu surga dibuka, pintu-pintu
neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Ramadhan adalah lahan yang
subur bagi orang Mukmin. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Dan
Ramadhan merupakan saat bertaubat,kembali kepada Allah Azza wa jalla
bagi orang yang berbuat maksiat. Wahai pencari keburukan, berhentilah!

Dalam menyambut Ramadhan, manusia terbagi menjadi dua macam, yaitu:

Jenis pertama: orang yang merasa senang dengan kehadirannya, karena
dia telah membiasakan diri untuk mengerjakan puasa dan menyiapkan
dirinya untuk menanggung beban puasa. Maka, dia tidak merasa berat
ketika berpuasa. Bahkan ia akan mencela dirinya jika meninggalkannya.
Para Salafus shalih sering berpuasa (meninggalkan makan, minum dan
segala hal yang membatalkan- red) hingga menjadi terbiasa. Barang
siapa meninggalkan sesuatu karena Allah Azza wa Jalla, maka Allah Azza
wa Jalla akan memberikan ganti yang lebih baik darinya. Allah Azza wa
Jalla berfirman:

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

(Kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan
amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”
[al-Haqqah/69:24]

Sebagaimana membiasakan diri untuk berpuasa, dia juga membiasakan
qiyâmul lail (shalat malam) yang merupakan penjagaan malam sebagaimana
puasa juga merupakan penjagaan siang. Dalam qiyâmul lail terdapat
kesungguhan jiwa dan konsentrasi peribadatan sehingga bisa mengalahkan
setan; serta kabar gembira berupa balasan surga dan keselamatan dari
neraka. Qiyâmul lail adalah kemuliaan bagi seorang Mukmin dan syi‘ar
orang-orang shâlih. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hendaknya kalian mengerjakan qiyâmul lail (shalat malam) karena itu
merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian. Ia merupakan
bentuk pendekatan diri kepada Rabb kalian, sebagai penghapus kesalahan
dan mencegah perbuatan dosa”.[1]

Mereka menyambut Ramadhan dengan banyak berdzikir kepada Allah Azza wa
Jalla dan membaca al-Qur‘ân dengan rutin, melaksanakan amar makruf dan
nahi mungkar, dan memberikan sedekah kepada orang-orang fakir dan yang
membutuhkan dan dengan memberikan buka kepada orang yang berpuasa.
Karena dengan memberi makan orang yang berpuasa, akan mendapatkan
pahala seperti orang yang berpuasa. Mereka menyibukkan diri mereka
dengan cara berdzikir dan mengkhatamkan al-Qur‘ân. Sehingga mereka
mendapatkan pahala yang sempurna pada akhir bulan, mendapatkan
lailatul qadr dan mendapatkan kemenangan dengan pahala dari Allah Azza
wa Jalla. Mereka berharap mendapatkan ampunan dari berbagai dosa.
Setelah keluar dari Ramadhan, keadaan mereka seperti ketika dilahirkan
dari perut ibu mereka. Mereka mendapatkan pahala pada hari iedul
fitri. Mereka menyelesaikan Ramadhan dalam keadaan mendapat ampunan.
Dan mereka adalah orang-orang yang berdoa kepada Allah Azza wa Jalla
selama berbulan-bulan agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan; karena
mereka mengetahui keutamaan bulan itu. Ramadhan merupakan saat-saat
kebaikan dan berlomba-lomba dalam mendekatkan diri.

Jenis kedua: orang-orang yang merasa berat dengan bulan ini. Bagi
mereka, Ramadhan itu menyusahkan.Mereka selalu menghitung jam, hari
dan malamnya. Mereka menunggu kepergiannya tanpa kesabaran.Mereka
merasa berat dengan Ramadhan karena mereka pemuja dunia dan kehinaan.
Perhatian mereka hanya terkait dengan perut saja. Mereka membenci
semua amalan yang menghalangi tuntutan perut mereka. Mereka adalah
orang yang meremehkan ketaatan, tidak membiasakan dan tidak pula
menyukainya.

Yang kita saksikan sekarang adalah banyak orang-orang semacam ini.
Apabila Ramadhan telah datang, mereka mulai menyiapkan diri dengan
berbagai makanan dan minuman. Menghabiskan malam untuk mengobrol,
mengerjakan perbuatan dan permainan serta mengucapkan perkataan yang
haram. Barang kali dosa mereka ketika bulan Ramadhan lebih banyak
daripada di luar Ramadhan. Malaikat Jibril mendoakan mereka agar
dijauhkan dari rahmat Allahk, karena mereka tidak peduli dengan
sebab-sebab ampunan yang banyak terdapat di bulan Ramadhan. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengaminkan doa Jibril. Ini adalah
doa yang pasti dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Di antara bentuk rahmat Allah k kepada para hamba-Nya adalah bahwa
ibadah-ibadah itu bertujuan untuk memperbaiki seorang hamba, membuka
pintupintu kebaikan, menutup pintu-pintu neraka baginya. Barang siapa
yang tidak memperbaiki amalannya, maka amalannya terdapat kekurangan
atau mungkin tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Dalam hadits
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berapa banyak orang yang
berpuasa yang hanya mendapatkan rasa haus dan dahaga dalam puasanya,
dan berapa banyak orang yang mengerjakan qiyâmul lail hanya
mendapatkan bergadang dan rasa lelah saja dalam bangunnya”.[2]

Adakah kita melihat kondisi kita ketika menyambut Ramadhan membuat
bahagia dan menggugah untuk ditiru? Berlomba-lomba pada bulan itu
dengan berbagai amal shalih? Memenuhi seruan, ‘wahai pencari kebaikan
kemarilah’ dan ‘wahai pencari keburukan berhentilah? Apakah mereka
menyambutnya dengan memperbanyak membaca al-Qur`ân, berdzikir,
shadaqah, shalat dan amalan yang menguntungkan? Mudahmudahan saja
seperti itu.

Perlu diingat bahwa Ramadhan adalah peluang besar untuk membaca
al-Qur‘ân, dzikir, saling menasehati, shalat malam dan istighfar.
Ramadhan itu juga kesempatan bagi jiwa untuk bersungguhsungguh dalam
mengekang hawa nafsu, mengenalkan jiwa kepada kewajibannya;
menampakkan hakekatnya serta menghantarkannya kepada Rabbnya,
menjaganya dari syahwat dan membentenginya dari musuh serta berusaha
mensucikan jiwa. Ramadhan juga bulan derma bagi pemilik harta untuk
memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan, menghilangkan beban
orang yang terhimpit, bersikap dermawan kepada orangorang fakir dan
yang membutuhkan. Barangsiapa menyambut Ramadhan dengan mencari pahala
Allah Azza wa Jalla, maka dia akan beruntung.

Ya Allah Azza wa Jalla, terimalah dari kami. Sesungguhnya engkau
adalah Maha mendengar dan Maha mengetahui. Berilah kami taubat,
sesungguhnya engkau adalah Maha penerima taubat dan Maha penyayang.
Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tidak memiliki rasa takut
dan bersedih hati. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang
mendengarkan ucapan dan mengikuti yang baik dari ucapan itu. Jadikan
akhir amal kami adalah amal yang shalih. Jadikanlah sebaik-baik amal
kami pada akhirnya dan sebaik- baik amal kami adalah pada akhir hayat
serta sebaik-baik hari kami adalah pertemuan dengan-Mu. Sesungguhnya
engkau adalah Maha mendengar dan Maha mengabulkan

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XIII/1430H/2009M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax
0271-858197]
Footnote
[1]. At-Tirmidzi kitab ad-Da‘awât bab doa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. al-Albâni rahimahullah mengatakan: shahîh hasan
[2]. Ahmad 2/373 dengan sanad jayyid 

SEHAT DENGAN PUASA

Bulan Ramadhan yang penuh berkah menyimpan banyak manfaat bagi kaum muslimin yang menjalankan puasa ramadhan. Salah satu manfaat yang dapat diraih, ialah sehatnya badan dengan berpuasa. Banyak orang telah membuktikan, badan terasa lebih sehat dan bugar ketika menjalanan puasa, orang-orang yang sedang sakitpun tidak ketinggalan ikut merasakan manfaatnya, yaitu penyakitnya membaik dan dapat terkontrol. Dengan berpuasa ternyata banyak keuntungan yang diperoleh tubuh, yang tidak didapat ketika seseorang sedang tidak menjalankan puasa.

PENYAKIT DAPAT TERKONTROL DENGAN PUASA

1. Sakit maag.
Seseorang dengan sakit maag karena kelainan fungsional, pola makannya akan lebih teratur selama puasa Ramadhan. Pada saat sahur dan berbuka, ia akan menghindari camilan-camilan yang mengandung coklat, keju, makanan berlemak dan berminyak; yang dalam hal ini baik bagi penyembuhan sakit maagnya. Selain mengkonsumsi makanan camilan yang kurang sehat untuk lambung, selama berpuasa juga akan mengurangi minuman yang mengandungsoda kopi dan alkohol serta rokok. Selama berpuasa, ia juga akan lebih mengendalikan diri, terutama mengendalikan stres, yang merupakan faktor dominan dalam menimbulkan gangguan pada lambung penderita maag karena kelainan fungsional. Makan secara teratur disertai berkurangnya konsumsi makanan camilan dan minuman yang tidak sehat untuk lambung, serta mengendalikan diri dari stres, merupakan faktor penting yang membuat kondisi penderita sakit maag membaik selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

2. Kegemukan, kencing manis, kolesterol tinggi,tekanan darah tinggi dan asam urat.
Selama puasa Ramadhan akan terjadi pengurangan asupan makanan, sehingga kita dapat mengurangi berat badan sekitar 5 %. Penelitian membuktikan, asupan kalori orang yang berpuasa akan berkurang selama menjalankan puasa, dan hal ini akan mengontrol berat badannya. Berbagai penyakit metabolik, seperti kegemukan (obesitas), penyakit kencing manis (Diabetes Mellitus/DM), kadar kolesterol dan trigliserida tinggi (dislipidemia), tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kadar asam urat tinggi (hiperurisemia), akan lebih baik dan terkontrol jika seseorang yang mengalami penyakit tersebut dapat mengendalikan berat badannya. Puasa Ramadhan merupakan kesempatan yang baik bagi mereka dengan penyakit kronis ini untuk mengendalikan penyakitnya.

3. Penyakit persendian.
Seseorang yang mengalami gangguan pada sendi berupa pengapuran (osteoartritis), terutama pada sendi lutut dan sendi tulang belakang, maka dengan terjadinya pengurangan berat badan, juga akan membantu memperbaiki gangguan sendi yang terjadi. Jelaslah, jika puasa Ramadhan dilaksanakan dengan baik, maka berat badan dapat dikontrol dan dikurangi, sehingga akan memperbaiki keadaan penyakit kronis yang ada. Tetapi tentunya, hal ini dapat terwujud jika kaidah-kaidah selama puasa dapat dilaksanakan dengan baik, yaitu tidak makan dan minum yang berlebih-lebihan, serta banyak mengkonsumsi buah dan sayur-sayuran, serta melakukan kegiatan olah raga ringan. Salah satu aktifitas fisik yang sangat baik, yaitu melaksanakan shalat tarawih yang bermanfaat membantu membakar lemak di dalam tubuh jika dilakukan secara rutin. Shalat malam mempunyai manfaat meningkatkan perubahan respon ketahanan tubuh imunologik. Yaitu ketika shalat malam dilakukan dengan tepat, khusyuk, ikhlas, dan kontinyu (terus-menerus). Shalat malam juga mampu menurunkan sekresi (pengeluaran) hormon kortisol, yaitu hormon yang digunakan sebagai tolak ukur stress dan homeostasis tubuh.

MENGATUR POLA MAKAN DENGAN BIJAKSANA
Ada beberapa hal yang perlu diketahui, supaya makanan yang kita konsumsi selama bulan puasa dapat menyehatkan badan dan bukan sebaliknya. Hal-hal berikut ini, hendaklah perlu diterapkan untuk mengatur pola makan selama bulan puasa.

1. Perbanyak konsumsi makanan berserat, dan jangan makan berlebihan saat sahur.
Sahur sangat penting untuk mendukung kelancaran ibadah puasa. Makanan yang disantap saat sahur, akan menjadi cadangan energi selama berpuasa. Oleh karena itu, usahakan tidak meninggalkan sahur ketika akan berpuasa, karena juga terdapat berkah dalam makan sahur. Dalam hadits dari Anas Ibnu Malik rahimahullah , bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada berkahnya”. (Muttafaqun ’alaih).

Makanan berserat akan memperlancar proses pengeluaran racun dari dalam tubuh dan dapat mengurangi konsentrasi radikal bebas dalam tubuh, hingga sel-sel tubuh menjadi lebih segar dan elastis. Disamping itu, hendaklah tidak makan berlebihan saat sahur, karena dapat menyebabkan melonjaknya kadar gula dalam darah, serta merangsang keluarnya hormon insulin secara berlebihan. Hormon insulin ini akan mengangkut gula darah ke seluruh jaringan tubuh guna diubah menjadi glikogen atau lemak. Apabila kita makan terlalu banyak, maka glikogen dan lemak yang dihasilkan juga berlebihan. Padahal, lemak yang berlebihan sukar diuraikan menjadi gula darah kembali. Akibatnya, seseorang yang makan berlebihan saat sahur tidak bertambah segar, tetapi justru semakin merasa lesu.

2. Perbanyak mengkonsumsi air.
Usahakan tetap mengkonsumsi air delapan gelas setiap harinya. Caranya, antara lain dengan meminum sekitar 2 gelas saat buka puasa, lalu setelah tarawih hingga menjelang tidur, minum lagi sebanyak 3-4 gelas. Sedangkan pada saat sahur, kita bisa minum sebanyak 2 gelas lagi. Minum air tidak selalu berarti air putih saja, tetapi minum teh, susu, sari buah, bahkan kuah sayur juga termasuk dalam jumlah air yang kita konsumsi.

3. Berbuka puasa secara sehat.
Segerakan berbuka ketika waktunya telah tiba, seperti disebutkan dalam salah satu hadits dari Sahal Ibnu Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang-orang akan tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”. [Muttafaqun ’alaih].

Syari’at Islam yang sempurna telah mengajarkan supaya tidak memberat-beratkan diri dengan menunda berbuka puasa, padahal waktunya telah tiba. Karena hal ini akan berdampak buruk pada kesehatan, terutama pada organ lambung. 

Pada saat berbuka puasa, sebaiknya tidak langsung makan dan minum terlampau banyak. Berbuka puasa dengan makanan berat dalam jumlah banyak, justru memberatkan kerja lambung yang sudah dibiarkan beristirahat sekitar 12 jam. Jangan sampai menjadikan waktu berbuka puasa sebagai ajang “balas dendam” setelah seharian menahan lapar dan haus. Hindari langsung meminum air es atau minuman dingin, karena hal ini dapat menekan rasa lapar. Sebaiknya makan dan minum yang manis saat berbuka (disunnahkan berbuka dengan kurma), dan makan makanan ringan yang mudah dicerna. Setelah kadar gula darah berangsur-angsur kembali normal, lakukan shalat Maghrib. Selang setengah jam kemudian, makanlah menu lengkap secukupnya. Setelah shalat tarawih, anda dapat makan lagi, jika masih merasa lapar. Bagi para ibu rumah tangga, menyajikan menu berbuka bagi keluarga tentu sangat menyenangkan. Dan alangkah lebih bijaksana, jika para ibu menyiapkan menu yang sehat dan bergizi untuk menunjang kelancaran ibadah puasa seluruh anggota keluarga.

MENGKONSUMSI SUPLEMEN SELAMA PUASA
Setiap orang tentu menginginkan bisa tetap aktif saat puasa dan tetap fit sepanjang hari. Dengan alasan itu, muncul kecenderungan untuk mengkonsumsi suplemen vitamin. Namun perlu diingat, vitamin bukanlah makanan pengganti (subtitusi). Yang penting, kita harus makan makanan sehat dan bergizi, sehingga kebutuhan vitamin tercukupi lewat makanan yang bervariasi. Kita, hendaklah tidak meminum vitamin sembarangan, tetapi konsultasikan dulu kepada dokter. Sebagian besar orang tidak mengetahui berapa kebutuhan dirinya akan vitamin dan mineral. Padahal ada vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, serta K, yang jika dikonsumsi berlebihan akan tersimpan dalam tubuh dan bisa berbahaya bagi metabolism tubuh.

Kita tahu makanan alami tentu saja lebih aman. Karbohidrat diperoleh dari nasi, kentang, mie, jagung, dan lainnya, yang biasanya dijadikan menu makanan pokok. Sementara sumber protein ditemukan dalam makanan, seperti daging, ikan, tempe, tahu, ayam, dan sebagainya. Sedangkan sumber vitamin dan mineral ada pada sayuran dan buah-buahan berwarna kuning, hijau tua, atau merah.

BEROLAHRAGA SELAMA PUASA
Kondisi fisik seseorang yang sedang berpuasa memang cenderung lemas karena menahan lapar dan haus. Namun demikian, hal itu bukan menjadi alasan untuk tidak berolah raga. Bagaimana pun,olahraga itu penting untuk menjaga kebugaran dan vitalitas tubuh. Satu hal yang perlu diingat, semua harus direncanakan, sehingga tidak menimbulkan efek buruk bagi tubuh.

Bagi orang yang terbiasa berolahraga kemudian berhenti mendadak karena puasa, justru bisa menimbulkan masalah. Minimalnya, otot tubuh yang semula sudah terbentuk jadi merosot lagi. Biasanya seseorang yang terbiasa berolahraga mempunyai selera makan yang bagus. Sehingga bila mendadak berhenti berolah raga tidak akan ada lagi pembakaran glikogen. Akibatnya, berat badan akan naik dan mudah terserang penyakit. Oleh karena itu, pada saat puasa usahakan untuk tetap berolah raga. Olah raga yang sifatnya aerobic merupakan jenis olahraga yang baik saat bulan puasa. Seseorang yang berpuasa tidak dianjurkan berolah raga sampai tenaganya terkuras habis, atau sampai badan menjadi lelah. Melakukan olah raga yang ringan saja sudah cukup, seperti jogging atau senam.

Idealnya, olah raga dilaksanakan dua jam setelah berbuka puasa. Pada saat itu, perut sudah mulai kosong. Sebab, olah raga yang dilakukan dalam keadaan perut penuh, hasilnya justru kurang bagus. Olah raga juga bisa dilakukan satu jam atau 30 menit menjelang waktu berbuka, supaya pada saat waktu berbuka tiba, kita bisa segera minum untuk menghilangkan dahaga. Sebaliknya, kurang tepat apabila olah raga dilakukan setelah makan sahur karena perut dalam keadaan kenyang. Disamping mengganggu organ pencernaan, olah raga setelah makan sahur juga melelahkan dan menimbulkan rasa haus.

PENUTUP
Demikianlah, penjelasan singkat seputar puasa dan kesehatan. Tentunya kita perlu mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan. Kondisi tubuh yang fit, insya Allah akan semakin menunjang kelancaran ibadah puasa. Siapakah yang tidak ingin bertambah sehat setelah menjalankan ibadah puasa, apalagi ditambah dengan sembuhnya penyakit-penyakit yang diderita?! Kita hendaklah berusaha menjalankan puasa secara sehat, baik ketika makan sahur, beraktifitas selama puasa, dan saat berbuka puasa.

Selamat menjalankan ibadah puasa. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melimpahkan nikmat kesehatan pada kita semua. (dr. Avie Andriyani)

Sumber:
1. Penelitian Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
2. Dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD, Antisipasi Penyakit Pasca Lebaran, Surabaya.
3. Muhammad Sholeh, Tahajud, Manfaat Praktis Ditinjau dari Ilmu Kedokteran, Penerbit Forum Studi HIMANDA bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, Yogyakarta

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 05/Tahun Xii/1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197] 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Walgreens Printable Coupons